Bagaikan suasana matahari terbenam yang diburu manusia, pesona Kota Tua Jakarta selalu dirindukan.
Bagaikan suasana matahari terbenam yang diburu manusia, pesona Kota Tua Jakarta selalu dirindukan. Ada kehangatan yang terpendar di antara gedung-gedung tua nan renta yang dahulu bersinar pada masa penjajahan Belanda.

Bermula saat Jan Pieterzen Coen membangun Jakarta yang dulu dikenal dengan Batavia pada abad ke-17, pusat perekonomian Hindia Belanda mulai menggurita. Bunyi klakson di antara bangunan-bangunan bergaya klasik mewarnai sejak matahari mulai tergelincir di ufuk barat.

Siang itu, mobil lalu-lalang dan saling berlomba-lomba melewati persimpangan jalan dekat Stasiun Kota. Sementara, di pelataran halaman depan Museum Bank Mandiri, ada beberapa orang anggota Komunitas Jelajah Budaya tengah berkumpul.

Hari Sabtu (9/6/2017) lalu, sempat mengikuti kegiatan "Jelajah Kota Toea: Ngabuburit ke Kota Tua". Perjalanan sore itu dimulai dari Museum Bank Mandiri dan diakhiri di Kampung Luar Batang. Moda transportasi yang digunakan adalah sepeda ontel.

"Masing-masing langsung ke ojek ontelnya, diinget muka abangnya (ojek ontel) ya," kata Kartum Setiawan, Pendiri Komunitas Jelajah Budaya sekaligus pemandu wisata, sebelum memulai perjalanan.

Satu persatu anggota komunitas langsung duduk di boncengan sepeda. Kemudian, sepeda-sepeda langsung menyusuri jalan menuju Roa Malaka. Di sana, Kartum sempat menjelaskan sejarah singkat tentang Roa Malaka.

"Roa Malaka pernah menjadi tempat pemukiman orang-orang Portugis yang ditawan di Malaka," jelasnya.

Tak berlama-lama selang kemudian, kami berada di sebuah persimpangan Jalan Roa Malaka. Peserta jelajah bertolak dari depan gedung bank milik Inggris menuju Jalan Tiang Bendera. Di sana, Kartum kembali menceritakan sekelumit hal-hal yang terkait dengan Jalan Tiang Bendera.

Peserta berdiri di depan rumah-rumah yang berkelir hijau dan putih kusam. Ngabuburit kali ini memang terasa berbeda. Bila biasanya ngabuburit diisi dengan berburu kuliner berbuka, pilihan lain adalah menjelajahi Kota Tua Jakarta.

Etty (50), seorang guru matematika yang tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengajak kedua anaknya yang masih bersekolah untuk ngabuburit keliling Kota Tua Jakarta. Mereka biasanya kerap ngabuburit untuk berburu kuliner.

BACA JUGA : Kampung Pelangi Menarik Perhatian Dunia, Rumah Kumuh Berubah Menjadi Keren

"Ngabuburit Ini hampir ikut tiap tahun. Gak sama komunitas ini (Komunitas Jelajah Budaya) juga tapi sama komunitas lain. Saya mulai suka jalan-jalan sejarah dari tahun 2010. Jalan-jalan ini saya dapat ilmu dan teman. Dapat ilmu sejarah tentang Indonesia. Daripada belajar cuma lewat buku. Bosan," kata Etty.

Etty adalah satu dari sekitar 20 orang peserta Ngabuburit Kota Tua. Rata-rata peserta ngabuburit didominasi oleh perempuan.

Destinasi selanjutnya adalah Masjid Keramat Luar Batang. Sepeda-sepeda ontel mengantarkan peserta melewati area Museum Bahari lalu berbelok masuk ke area Luar Batang. Jalan-jalan sempit dan perkampungan padat menjadi pemandangan setiap jengkal roda sepeda berputar.

Masjid Keramat Luar Batang berlokasi di Kampung Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Alkisah, masjid ini dibangun oleh Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Habib Husein merupakan salah satu ulama yang berasal dari Yaman, menyebarkan agama Islam hingga meninggal Kampung Luar Batang.

Mulanya masjid ini adalah surau yang dimiliki oleh Habib. Dari Luar Batang, peserta kembali ke area Fatahillah untuk berbuka puasa. Usai menjelajah Kota Tua, rasanya ada penghormatan terhadap sejarah serta sekelumat rasa miris terhadap kondisi Kota Tua. Peninggalan sejarah seperti ini memang patut dipelihara dan dilestarikan.

Post A Comment:

0 comments: